Ketika survei capres LSI 'hilangkan' Jokowi

Merdeka.com - Survei menjelang Pemilu 2014 makin liar saja. Kemarin hasil riset Lingkaran Survei Indonesia (LSI) cukup membuat heboh publik lantaran 'menghilangkan' nama Joko Widodo ( Jokowi ), yang selalu menang dalam polling beberapa bulan terakhir.

Bersama Prabowo , Jokowi dianggap hanya capres wacana. "Jokowi dan Prabowo walau tinggi elektabilitasnya, hanya akan menjadi capres wacana," kata peneliti LSI Adjie Alfaraby dalam jumpa pers di kantornya kemarin.

Menurut Adjie, Jokowi hanya capres wacana karena pencapresannya bergantung pada keputusan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri . Sementara, Prabowo juga cuma wacana karena elektabilitas Partai Gerindra masih rendah.

"Partai Gerindra dalam sejumlah survei LSI elektabilitasnya di bawah 10 persen dan itu di bawah tiga partai besar, Golkar, PDIP, dan Demokrat," kata Adjie.

Melihat survei Pusat Data Bersatu (PDB) yang dirilis 10 Oktober lalu, elektabilitas Jokowi justru terus meroket sampai ke angka 36 persen, jauh meninggalkan Prabowo Subianto yang berada di urutan kedua dengan 6,6 persen.

Elektabilitas ini yang tidak dibuka oleh LSI karena dianggap dua capres itu hanya wacana. Padahal, sebagai alat menangkap persepsi publik secara obyektif, seharusnya survei capres tidak bisa seenaknya 'menghilangkan' nama-nama dengan asumsi-asumsi politis, misalnya karier seseorang tokoh di parpol tertentu.

Menanggapi hasil survei LSI itu, sejumlah petinggi PDIP malas berkomentar. "Buat apa komentari hasil survei LSI yang konsultannya Golkar dan Ical," ujar seorang petinggi partai banteng.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai NasDem Patrice Rio Capella bahkan menanggapi sinis hasil survei LSI yang menyatakan partainya terancam tidak lolos Parliamentary Threshold 3,5 persen.

"LSI Denny JA ini dalam surveinya selalu memenangkan Golkar, berbeda dengan lembaga survei yang lain. Jadi kita (NasDem) tahu apa agenda yang dibawanya. Oleh karena itu NasDem melihat ini survei lucu-lucuan karena tidak sesuai dengan fakta di lapangan," kata Patrice Rio Capella saat dihubungi, Senin (21/10).

Post a Comment

0 Comments