BeritaSeharian.com- Supernova bermula ketika sebuah Hentakan lembut music trance yang mengalun dalam sebuah pesta di rumah mewah mempertemukan Reuben (Arifin Putra) dan Dimas (Hamish Daud), mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Amerika. Malam itu keduanya berjanji; Bahwa suatu hari mereka akan menulis sebuah buku, sebuah cerita roman sains yang menggerakkan hati banyak orang. Kisah tentang Kesatria Puteri dan Bintang Jatuh.
Jakarta, dari sebuah kantor eksekutif, sebuah wawancara mendadak antara Ferre (Herjunot Ali) seorang eksekutif muda, kaya, pintar dan terkenal; Dan Rana (Raline Shah), wakil pemimpin redaksi majalah wanita papan atas di Indonesia; mengubah jalan hidup keduanya. Wawancara langka penuh kejujuran tentang, cinta, pengorbanan, dan kebebasan . Obrolan manis penuh hentakan denyut jantung dan tatapan yang amat dalam, bahkan terlalu dalam bagi Ferre dan Rana. Keduanya jatuh cinta.
Rana telah bersuamikan Arwin (Fedi Nuril) seorang pengusaha dari keluarga terkenal dan terpandang di Jakarta. Laki-laki pilihan Rana setelah seluruh keluarga besarnya mendukung, betapa Rana beruntung jika menikah dengan Arwin dan betapa Arwin adalah pria pilihan keluarga yang pantas dinikahi dan dibanggakan.
Kisah indah Ferre dan Rana berlanjut dan semakin dalam. Bagaikan Kesatria dan Puteri di kerajaan cinta. Keduanya mabuk dalam cinta yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Ferre dan Rana tidak bisa lepas dari kekacauan cinta terlarang yang terasa benar, dan keteraturan kehidupan pribadi rumah tangga Rana dan Arwin yang baik-baik saja, tetapi terasa salah.
Diva (Paula Verhoeven), seorang model papan atas tiba-tiba muncul dalam kehidupan Ferre. Dengan segala kekacauan dan keteraturan semesta, dibawah malam penuh bintang dan kelebat bintang jatuh; Diva hadir. Anehnya ternyata selama ini Diva tinggal di cluster yang sama dengan Ferre, bahkan rumah mereka saling berhadapan.
Reuben dan Dimas, Ferre, Rana, Arwin dan Diva, akhirnya bertemu tanpa saling mengenali satu sama lain dalam sebuah blog agresif, puitis, romantis, fenomenal bernama Supernova.
Film yang diadaptasi dari novel Dee Lestari ini menghadirkan situasi berbeda dibanding film-film Indonesia yang sudah ada. Bagaimana film ini dikemas dengan memuat unsur sains dan animasi-animasi yang membuat film ini menjadi ‘beda’.
Bagi anda yang sudah membaca novel Supernova, mungkin merasa penasaran dengan versi filmnya. Dan bagi anda yang belum, anda mungkin akan merasa melihat Supernova seperti film Indonesia dengan isi atau muatan yang berbeda.
Meski ceritanya cenderung umum, namun harus diakui bahwa pendalaman seorang Dee Lestari tentang kisah cinta, kesetiaan, dan perselingkuhan harus diapresiasi. Ini yang membuat anda harus berpikir sejenak ketika menontonnya ketika melihat apa yang dialami oleh para pemain dalam film ini, terutama beberapa karakter seperti Ferre, Rana, dan Arwin.
Sinematografi Supernova: Kstaria, Putri dan Bintang Jatuh memuaskan mata. Kekuatan sinematografi menjadi lebih kokoh dengan penggunaan animasi yang menakjubkan, seperti saat wawancara Rana dengan Ferre di meja keluar kupu-kupu, ketika Ferre berada di tengah bintang-bintang. Yang paling mengundang decak kagum ialah cerita tentang ksatria mengejar putri dengan bantuan kupu-kupu, elang, lalu dengan bantuan bintang jatuh. Sang ksatria digambarkan bergaya setengah Jawa, rumah bergaya oriental, bintang jatuh mengingatkan pada film fiksi ilmiah Tron. Realisme dan surealisme.
Kualitas akting para aktor dan aktris di film ini juga sangat impresif. Terutama pada seorang Herjunot Ali yang berperan sebagai Ferre. Junot sangat apik membawakan perannya sebagai seorang pengusaha muda yang sangat sukses, ambisius, terkesan 'kuat', namun ternyata rentan perasaannya.
Bagi yang sudah penasaran, segera saksikan Supernova yang sudah ditayangkan secara serentak di seluruh jaringan bioskop di Indonesia.
_____________________
Penulis : Media Tawadhu
Editor : Pramdia A







0 Comments