Beritaseharian.com - “Bungin terpancar pecah saat kakiku menapak pantai ujung selatan Sumatera. Kubuka mata, dan aku berada di tanah yang Musa janjikan. Kupalingkan kepala, di negeri jauh ini satwa berlompatan turun dari bahtera yang Nuh kemudikan. Ya Tuhan, bangunkan aku. Cubit tanganku. Kutahu ini bukan swargaloka. Tapi sungguh, aku berada di serambi firdaus yang membentang hingga ke ufuk sana.”

Kisah Bermula
Tahun 1996 adalah halaman pertama negeri ini. Tambling Wildlife Nature Conservation atau Tambling saja adalah namanya. Sekian banyak manusia penuh dedikasi mengabdi ke bukan sesama spesies mereka. Gajah, rusa, trenggiling adalah tuan-tuan tanahnya. Beruang, sigung, badak adalah empunya. Harimau adalah pemangku singgasananya. Juga beraneka satwa lain selaku anak-anak emasnya.
Tolok ukur kerja para pengabdi profesional di Tambling terbilang “sederhana”. Manakala hewan-hewan bahagia, mereka akan beranak pinak. Dan itulah yang terjadi. Pengabdian setiap hari telah
mendatangkan manfaat yang membasuh hati: Tambling kini menjadi suaka margasatwa yang dihuni
oleh harimau Sumatera dengan populasi tertinggi di Asia Tenggara. Oya, jangan lupakan bebek sayap putih. Si cantik itu telah datang kembali, menjadikan Sei Leman dan Telaga Menjukut sebagai tempat persinggahan eksklusif mereka.
Pun demikian dengan flora. Jenis-jenis tanaman yang terancam punah coba ditumbuhkan kembali di Tambling. Belasan ribu pokok bayur, waru, dan nyamplung sekarang tumbuh subur laksana paru-paru bagi dunia.
Pencari Gara-Gara
Dengan luas wilayah sekitar 50 ribu hektar hutan dan 14 ribu hektar area laut, Tambling memang tak mudah dijangkau. Akses publik sengaja disumbat sedemikian rupa agar kelestarian Tambling tetap terjaga. Kendati demikian, bersih dari pembabat pohon, pembakar hutan, penjala ikan ilegal, dan
pemburu binatang, tidak serta-merta membuat Tambling bebas dari ancaman.
Musuh terbesar Tambling adalah merremia peltata alias mantangan. Flora berbunga mirip melati itu
datang sebagai dampak penebangan hutan secara besar-besaran beberapa masa silam. Meski mungil
dan terkesan lugu, namun Mantangan bisa mematikan pepohonan dengan daya sebar yang mengerikan.
Satu lagi tantangan bagi konservasi alam di Tambling adalah pemanasan global. Efeknya tidak sepele, yakni susutnya garis pantai. Dan semua warga dunia seharusnya ikut terpanggil untuk ikut berkerut dahi mencari penawarnya.

Tanpa Titik, Selalu Koma
Tambling tidak hanya menjadi rumah nan indah bagi fauna dan flora. Gesekan yang kerap terjadi antara manusia dan hewan menemukan antitesanya di sana. Itu berkat pengelolaan Tambling yang juga semaksimal mungkin memberdayakan masyarakat sekitar. Hasilnya, makhluk ciptaan Tuhan dengan rupa-rupa bentuk pun bisa hidup tenteram bersama.
Tambling adalah kaca benggala bagi kita untuk bangun satu janji. Bahwa, mengasihi bumi adalah kita punya legacy.

___________________________________
Penulis : Reza Indragiri
Fotao : Tambling Wildlife Nature Conservation



0 Comments