Banjir merendam terowongan Cawang dari Kebon Nanas ke arah UKI di Jalan
DI Panjaitan, Jakarta Timur, Rabu (29/1). Terowongan tol Halim dari
Bekasi arah Tanjung Priok juga ditutup karena banjir setinggi 80 cm
merendam ruas jalan tol. Kompas/Agus Susanto (AGS
JAKARTA, KOMPAS.com —
Drainase dan situ yang ada di Jakarta tidak mampu menampung curah
hujan yang turun sejak Selasa (28/1/2014) petang hingga Rabu siang.
Warga Ibu Kota yang pulang kerja pada Selasa malam dan berangkat kerja
Rabu pagi tersiksa kemacetan parah.
Warga Ibu Kota dan sekitarnya
sengsara karena jaringan transportasi seakan lumpuh, ribuan rumah warga
kembali terendam, dan aktivitas warga pun terganggu. Sementara hujan
diperkirakan masih akan berlangsung hingga akhir Januari.
Setidaknya
ada 28 ruas jalan di Jakarta tergenang. Perjalanan kereta api dalam
kota yang menghubungkan Manggarai-Tanah Abang-Jatinegara kembali
terhenti di Stasiun Kampung Bandan. Jaringan rel yang berada di stasiun
itu kembali tergenang air. Sementara 76 RW di 21 kelurahan tergenang.
Peristiwa ini memaksa 9.985 warga meninggalkan tempat tinggalnya ke
lokasi pengungsian.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika
memperkirakan, untuk hari ini dan besok, di wilayah Jakarta dan kota di
sekitarnya diguyur hujan lebat.
Kepala Unit Pelaksana Teknis
Hujan Buatan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Heru Widodo
mengatakan, kemarin mereka kembali memodifikasi cuaca agar intensitas
dan curah hujan di Jakarta dan sekitarnya lebih kecil.
Meskipun
hujan turun tidak merata di wilayah DKI Jakarta dan daerah sekitarnya,
intensitasnya amat lebat. Akibatnya, sejumlah akses menuju Ibu Kota
terhambat banjir.
Tol banjir
Kepala Satuan Lalu Lintas Polda
Metro Jaya Wilayah Jakarta Timur Ajun Komisaris Besar Supoyo mengatakan,
genangan masuk ke ruas jalan Tol Dalam Kota yang memicu kemacetan di
Tol Jakarta-Cikampek. Banyak kendaraan di dalam tol itu akhirnya keluar
di pintu Cawang Interchange dan masuk ke Jalan DI Panjaitan. Akibatnya,
Jalan DI Panjaitan yang sudah dipadati kendaraan bertambah padat.
Jalan
Kapten Tendean, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, tak bisa dilewati
kendaraan karena ada genangan mencapai 60 sentimeter. Akibatnya, arus
kendaraan dari arah Depok, Bogor, serta pinggiran Jakarta Selatan hanya
bisa menggunakan satu ruas saja. Kemacetan di ruas itu tak terurai
hingga sore hari.
Di Jakarta Barat dan Jakarta Utara, kondisinya
tak jauh beda. Di ruas Jalan S Parman, tepatnya di depan Universitas
Trisakti, arus lalu lintas terputus karena genangan amat dalam.
Di
Jakarta Pusat, banjir menggenangi Jalan Gunung Sahari, Jalan Samanhudi,
Jalan Kartini Raya, dan Pangeran Jayakarta. Genangan terjadi karena
luapan Kali Ciliwung Kecil di sisi Jalan Gunung Sahari hingga sekitar 60
cm. Genangan tersebut membuat lalu lintas kacau. Banyak kendaraan
mengabaikan rambu dan lampu lalu lintas, bahkan melawan arus.
Sementara
di Jalan Ciledug Raya penghubung Tangerang dan Jakarta Selatan sempat
terhambat lalu lintasnya di pertigaan Swadarma. Bahkan, hingga Rabu
sore, genangan di kawasan itu mencapai 20-30 cm.
Cuaca ekstrem
juga menghambat perbaikan jaringan kabel bertegangan tinggi kereta rel
listrik yang putus. Akibatnya, kata Kepala Humas PT Kereta Api Indonesia
Sugeng Priyono, terjadi penumpukan penumpang di beberapa stasiun
seperti Palmerah dan Kebayoran.
Penyebab banjirKepala
Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta Manggas Rudy Siahaan menuturkan,
banjir kali ini terjadi karena curah hujan yang sangat tinggi. Sementara
kemampuan jaringan drainase terbatas.
”Hitungan kami, paling
tidak ada 65 juta meter kubik air yang turun ke Jakarta sejak Selasa
malam hingga Rabu pagi. Saat itu rata-rata curah hujan di atas 100
milimeter,” kata Rudy.
Semua kali besar di Jakarta, kecuali Kali
Ciliwung, meluap. Seharusnya lebar rata-rata kali itu paling tidak 20
meter. Kini faktanya banyak yang hanya 6 meter. Inilah yang menyebabkan
daya tampung kali sangat terbatas sehingga tidak mampu menampung guyuran
hujan lebat dalam durasi waktu lama.
Kondisi ini diperburuk
dengan jaringan kali yang belum tertata baik. Contohnya pertemuan Kali
Cipinang dengan Kali Malang di Cawang. Arus Kali Cipinang tidak dapat
leluasa masuk ke Kanal Timur karena terhambat sumbatan saluran yang
terlalu kecil.
Menanggapi bencana ini, Gubernur DKI Jakarta Joko
Widodo ingin mempercepat langkah penanganan. Langkah yang dimaksud
adalah mengeruk semua saluran air, waduk, dan normalisasi sungai.
Kemarin, Jokowi mengunjungi lokasi banjir di RW 004 Kelurahan Pondok
Bambu, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur. Di RW 004 hanya satu RT,
yakni RT 010, yang tergenang air akibat luapan Kali Sunter. Kawasannya
mencakup Kampung Sawah dan Kompleks Cipinang Indah. Setidaknya 300 jiwa
terpaksa mengungsi.
Ahli hidrologi Fakultas Teknik Universitas
Indonesia, Firdaus Ali, mengatakan, daya dukung lingkungan Jakarta
memang lemah. Tanah mulai jenuh karena sudah diguyur hujan satu bulan
terakhir sehingga daya serap air semakin kecil. ”Perlu terobosan baru.
Jika perlu, memperbanyak resapan artifisial yang mulai dicoba di
beberapa tempat di Jakarta,” kata Firdaus
Di Kabupaten Tangerang,
Banten, banjir setinggi 1,5 meter memutuskan jalan di Desa Cisereh,
Kecamatan Tigaraksa. Jalan Raya Jambu, merupakan akses utama dari dan
menuju desa tersebut, terendam banjir sejak Selasa tengah malam.



0 Comments