DI antara kota-kota di Asia Tenggara, Kota Jakarta paling rentan
terkena dampak perubahan iklim. Dampak yang sangat dirasakan, antara
lain terjadinya peningkatan temperatur, curah hujan, dan naiknya
permukaan air laut.
''Akibat naiknya permukaan air laut, tanah di
Jakarta turun 5 cm setiap tahunnya. Daerah pesisir le bih parah, yakni
12 cm per tahunnya,'' kata Peneliti Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia
(LIPI) Deny Hidayati, pada seminar dampak perubahan iklim di Asia
Tenggara di Jakarta kemarin.
Naiknya permukaan air itu,
tambahnya, disebabkan gencar nya pembangunan besarbesaran di kawasan
pesisir, seperti lapangan golf, permukiman, hingga hotel, dan kawasan
reklamasi.
Selain itu, lanjut Deny, konstruksi bangunan di daerah
tangkapan air dan perilaku masyarakat juga ikut menyebabkan turunnya
permukaan tanah.
''Jakarta Utara ialah daerah paling rentan di
Jakarta terkena dampak perubahan iklim, dan menempati peringkat kedua
dalam hal kenaikan permukaan air laut,'' ujarnya lagi.
Pembicara
lain dalam seminar yang diselenggarakan LIPI itu, peneliti senior
Geoteknologi LIPI Jan Sopaheluwakan menambahkan, banjir besar yang
melanda Jakarta terus-menerus menunjukkan Jakarta harus beradaptasi
dengan kondisi yang ada.
''Tidak cukup hanya upa ya mitigasi,
upaya adap tasi diharapkan mam pu meminimalkan efek kerugian akibat
banjir dan juga untuk menyiapkan masyarakat dalam menghadapi bencana
tahunan tersebut,'' kata Jan.
Menurutnya, Jakarta sesung guhnya
belum sepadat Singapura. Akan tetapi, jika tidak disediakan banyak ruang
biru di utara dan ruang hijau di selatan, Jakarta akan terus menerus
dilanda hujan.
Pendapat senada juga disampaikan peneliti senior
Geoteknologi LIPI lainnya, Robert Delinom. Ia menyebut kenaikan
permukaan air laut di Jakarta memperparah dampak perubahan iklim.
Kondisi
Jakarta mirip kotakota lain di Asia Tenggara, seperti Hanoi dan
Bangkok. ''Perbedaannya adalah penanganan banjir di kota-kota itu jauh
lebih maju. Saat ini penanganan banjir paling bagus di Tokyo. Kita
ketinggalan 30 tahun, dan baru setara Manila. Dengan Bangkok saja kita
tertinggal 5 tahun,'' jelas Robert.
Kerja sama Dalam menangani
banjir, lanjut Robert, pemerintah tidak bisa melakukannya secara
terpisah. Kerja sama serentak dan simultan sangat dibutuhkan.
Menurutnya, masalah air tidak bisa dibatasi, kare na kalau menyangkut
iklim, kerja sama harus tanpa ba tas.
Kondisi Bangkok kurang
lebih sama dengan Jakarta. Namun, lanjut Robert, Bangkok dapat mengatasi
banjir dengan pembangunan sesuai kondisi lahan, regulasi yang tegas,
dan kesadaran masyarakat lebih baik.
''Indonesia tertinggal dalam
regulasi. Di Bangkok semuanya sudah jelas. Jika orang ambil air tanah,
ya harus bayar. Di pantai juga ada aturan pengambilan airnya,''
jelasnya. Hadir dalam seminar itu peneliti dalam dan luar negeri.
Kepala
LIPI Lukman Hakim mengatakan saat ini di Asia Tenggara banyak terjadi
banjir, badai topan, tanah longsor, serta letusan gunung berapi.
Sumber: http://www.mediaindonesia.com/hottopic/read/187/Jakarta-Rentan-Perubahan-Iklim/2014/02/20
0 Comments