MEDAN - Sejumlah pengungsi Gunung Sinabung semakin
resah saat mendengar ada 14 korban tewas diterjang awan panas. Ketakutan
juga timbul karena aktifitas Sinabung tidak menentu.
"Kemarin
katanya aktifitas menurun. Eh beberapa hari kemudian ada banjir lahar
dingin. Hari ini juga begitu, ada awan panas yang sampai merenggut
korban jiwa," kata pengungsi asal Desa Suka Meriah, Kecamatan Payung,
Malemta Ginting (32), di Pos Pengungsian Jambur Taras, Brastagi, Minggu
(2/2/2014).
"Enggak ada jaminan kita yang di pengungsian ini juga aman,” tambahnya.
Hal senada disampaikan Martin Sembiring (42), Kordinator Posko Pengungsi di Loss Kabanjahe Kota.
Menurutnya
pasca tersebarnya kabar tewasnya 14 orang dalam erupsi Sabtu siang,
banyak warga yang tidak tenang. Mereka pun terlihat tak bisa tidur, dan
hanya mondar-mandir menanti informasi terbaru kondisi Sinabung.
Biasanya,
cerita dia, para pengungsi mulai tertidur pukul 22.00 WIB. Semalam, ada
suasan berbeda. Banyak pengungsi yang masih mondar-mandir hingga
Minggu, dini hari, karena tidak tenang.
"Yang minta obat pusing
kepala dan gatal-gatal pun semakin banyak. Mungkin karena stres. Kita
sudah coba tenangkan dengan menyampaikan bahwa lokasi pengungsian aman.
Tapi banyak yang cemas dengan kampung halamannya,” ucap Martin.
Untuk
memberikan rasa aman kepada para pengungsi, Martin dan pengungsi
lainnya sepakat untuk terus terjaga secara bergantian. Ada juga yang
bertugas memantau kondisi merapi melalui televisi. Setiap pengungsi yang
terbangun akan tahu kondisi terakhir Sinabung.
“Ini sudah kita
buat seperti tugas piket. Karena besok masih ada pengungsi yang harus
bekerja di ladang di luar radius bahaya,” ujar Martin.
Sumber: http://news.okezone.com/read/2014/02/02/340/934898/pengungsi-sinabung-makin-resah
0 Comments