Setiap bangunan kuno, selain memiliki sejarah yang panjang juga memiliki
kisah-kisah misteri yang menjadi cerita tersendiri bagi masyarakat
sekitar. Begitu pula dengan Musem Bahari yang berada di Jalan Pasa Ikan
Luar Batang No. 1, Penjaringan,
Jakarta Utara. Banyak kisah misteri yang tersimpan di
museum ini, mulai dari penampakan sosok Noni Belanda sampai lukisan yang bergerak.
Bau amis ikan tercium sangat menyengat ketika saya tiba di Museum Bahari pada liburan nasional beberapa hari yang lalu. Bau
ini membuat sejumlah pengunjung harus menutup hidung. Pengerukan
lumpur
yang berada tepat di seberang pasar Ikan juga membuat bau semakin tidak
sedap dan menambah kesan kotor. Selain itu, warung-warung tenda yang
didirikan secara sengaja di depan museum pun juga kerap membuat suasana
museum menjadi macet.
Museum Bahari merupakan salah satu tempat
yang menjadi objek wisata sekaligus tempat belajar bagi para pelajar.
Museum ini dibangun pada
abad ke-17 dan 18 sesuai yang tertera di pintu utama masing-masing gedung.
Pada
masa penjajahan Belanda, museum ini dijadikan sebagai gudang
penyimpanan rempah-rempah sehingga tidak heran jika banyak rempah –
rempah yang terpajang di museum ini. Rempah – rempah yang dikoleksi
misalnya rempah, kopi, teh, tembaga, timah dan tekstil. Selain itu,
museum ini juga digunakan sebagai pusat keluar dan masuknya kapal.
Banyak kapal dari luar
Indonesia yang datang dan tercatat di museum ini.
Sementara itu, pada masa pendudukan Jepang, museum ini dipergunakan sebagai tempat menyimpan
logistik
tentara Jepang. Setelah Indonesia merdeka, bangunan ini digunakan oleh
PLN dan PTT untuk gudang. Kemudian pada 7 Juli 1977 yaitu pada
kepemimpinan Gubernur Ali Sadikin, bangunan ini diresmikan sebagai
Museum Bahari.
“Museum ini memiliki dua sisi, sisi barat dikenal
dengan sebutan Westzijdsche Pakhuizen atau Gudang Barat dan sisi timur
disebut Oostzijdsche Pakhuizen atau Gudang Timur,” kata Nuryahdi salah
satu satpam yang berjaga di museum tersebut.
Menurut Nuryahdi,
banyak koleksi yang ada di Museum Bahari, di antaranya miniatur perahu
tradisional phinisi dan kapal zaman VOC. Selain itu, ada pula berbagai
model dan miniatur kapal modern dan perlengkapan penunjang kegiatan
pelayaran.
Namun, lanjut Nuryahdi, yang paling diminati oleh
pengunjung yaitu lukisan Laksamana Malahayati yang berada di lantai dua.
Menurutnya, yang menarik dari lukisan tersebut yaitu di bagian matanya
bisa bergerak sendiri. “Kalau kita melihat ke kedua matanya, sepertinya
dia sedang memperhatikan dan melirik ke arah mana kita melangkah,” kata
satpam yang baru bekerja dua tahun di museum ini.
Menurut
Nuryahdi, bergeraknya mata lukisan Laksamana Malahayati bukanlah karena
adanya kekuatan gaib melainkan karena kepandaian sang pelukis. “Matanya
bergerak karena kehebatan pelukisnya saja, bukan karena adanya kekuatan
gaib,” katanya.
Laksamana Malahayati merupakan salah satu
Panglima Angkatan Perang kerajaan Aceh pada masa pemerintahan Sultan Al
Mukammil pada tahun 1589 – 1604. Dia mendapat kepercayaan sebagai wanita
Inong Balee.
Inong Balee adalah pasukan wanita yang semuanya
telah ditinggal oleh suaminya di medan pertempuran. Malahayati juga
perempuan pertama di Asia yang diangkat menjadi Panglima karena
keberaniannya menyerang kapal serta benteng – benteng Belanda. Pasukan
yang dipimpin oleh Malahayati juga memiliki benteng pertahanan. Beberapa
sisa – sisa pangkalan Inong Balee kini berada di Teluk Kreung Raya.
*****
Nuryahdi
tidak membantah jika di Museum Bahari memang memiliki kekuatan
supranatural atau dihuni oleh makhluk-makhluk gaib. Namun, dia mengaku
selama dua tahun menjaga museum dia belum pernah bertemu atau
mendapatkan kisah misteri.
“Kalau mengalaminya sendiri saya
belum pernah dan mudah – mudahan jangan sampai saya mengalami hal – hal
gaib seperti itu. Tetapi kalau berdasarkan cerita memang ada beberapa
cerita dari pengunjung yang pernah melihat penampakan di dalam museum
itu,” kata lelaki 50 tahun ini.
Nuryahdi bercerita bahwa anaknya
yang berusia sekitar 10 tahun juga pernah melihat penampakan di Museum
Bahari ini. Penampakan tersebut dilihatnya tepat di dekat tempat dia
berjaga.
“Kalau kata anak saya, di meriam dekat pajangan kapal –
kapal itu pernah ada anak kecil yang sedang berlarian. Kalau Anda bisa
melihat atau merasakan pasti Anda akan melihat sosok tersebut karena
sosok itu memang biasa menetap di meriam itu,” kata Nuryahdi dengan nada
serius.
Menurut Nuryahdi, memang Museum Bahari merupakan salah
satu museum tertua yang keberadaannya jarang menjadi pusat perhatian
bagi pemerintah pusat atau pemerntah daerah. Hal ini terbukti dari
bangunan museum yang sebagain besar sudah roboh, sehingga pengunjung
harus berhati – hati jika ingin menaiki lantai 2 gedung.
“Tetapi
sekarang sudah sedang direnovasi sebagian dan bahkan akan ditambah
koleksi museumnya. Misalnya nanti akan ada kamar untuk Nyai Ratu Kidul,
kamarnya akan di tempatkan di lantai dua gedung C yang berada di samping
koleksi miniature kapal,” kata Nuryahdi.
Selain itu, di dalam
museum ini juga akan dibangun sebuah kafe yang bertujuan untuk menarik
minat pengunjung jika kelelahan. “Di sini juga akan dibuat pertunjukan
film untuk menggambarkan situasi di museum, itu loh seperti yang ada di
Keong Emas. Jadi pengunjung selain bisa melihat koleksi – koleksi
miniature juga bisa menonton filmnya,” kata Nuryahdi.
Nuryahdi
mengatakan, renovasi ini diperkirakan akan selesai pertengahan tahun
2014. Dia memperkirakan berbaikan museum sudah sekitar 80 persen. “Kira –
kira pertengahan tahun kita sudah bisa menikmati pertunjukan museum
melalui film. Sekarang juga kita masih menunggu pengalihan pengurusan
museum dari daerah ke PT Bank Mandiri yang ditunjuk sebagai perusahaan
yang mengelola semua museum – museum yang ada di Kota Tua, termasuk
Museum Bahari ini,” katanya.
*****
Catur,
salah satu penduduk yang tinggal di dekat Museum Bahari mengaku sering
mengalami kejadian – kejadian aneh di museum ini. Sebagai seseorang yang
dianggap sepuh di daerah Pasar Ikan ini, Catur mengaku pernah melihat
sosok Noni Belanda yang sering berkeliaran di dalam museum.
Catur
bercerita, pada zaman penjajahan Belanda, di lingkungan gudang rempah –
rempah itu pernah tinggal seorang gadis Belanda yang cantik bernama
Emma. Emma adalah putri mandor gudang tersebut.
Berdasarkan
cerita, Emma jatuh cinta dengan seorang pribumi yang juga penjaga gudang
keturunan Ambon bernama Yakob. Namun, pada tahun 1780, Batavia diserang
wabah penyakit kolera. Untuk menjaga keamanan putrinya Emma, sang
mandor mengungsikan Emma ke Pulau Onrust yang karena dianggap jauh dari
kemungkinan penyebaran wabah kolera.
Akan tetapi, Emma akhirnya
meninggal di pulau tersebut dengan menahan rindunya kepada Yakob. Di
Batavia, Yakob pun tidak konsentrasi karena menanggung duka akan
kematian Emma. Dia pun akhirnya dipulangkan ke Ambon.
“Kadang –
kadang Noni Belanda itu suka menampakan dirinya, kadang – kadang di
museum tapi juga kadang – kadang di pantai. Tapi kalau kata nelayan di
sini sih mereka menganggap kalau keberadaan Emma itu untuk menemani
mereka,” kata Catur.
Selain Noni Belanda, Catur juga mengaku
pernah ditemui oleh sosok wanita yang sering sekali muncul di dalam
gedung C museum. Namun, wanita yang ditemui ini bukan Noni Belanda.
“Wanita itu mengenakan pakaian merah itu sering saya jumpai kalau malam
hari. Tetapi karena sudah biasa jadi tidak takut,” kata Catur.
Tidak
hanya, Catur yang juga kerap ikut berjaga di museum terkadang sering
mendengar suara – suara dari dalam museum. Terkadang ada saja suara
seperti suara orang tertawa atau suara derap langkah dari lantai tiga
atau lantai dua museum.
“Iya kalau malam paling banyak suara -
suara yang muncul, kadang – kadang ada suara orang lagi nanngis,
tertawa, suara derap langkah dan ada juga suara – suara binatang. Banyak
deh suaranya,” kata lelaki 60 tahun ini.
*****
Cerita misteri dari Museum Bahari ini juga diungkapkan oleh Ratno, salah satu
office boy di museum. Dia mengaku pernah bertemu dengan sosok Noni Belanda tepat ketika dia sedang membersihkan gedung C.
“Waktu
itu saya lagi membersihkan gedung C yang berada di ujung bangunan
museum. Saat itu saya melihat seperti ada seorang wanita berambut
pirang. Saya perhatikan wanita itu, karena saya pikir itu pengunjung
makanya saya diam saja. Tetapi saat saya di depan dan tanya ke satpam
kalau ada pengunjung bule di sini, satpam menjawab tidak ada,” kata
Ratno.
Ratno mengatakan, terkadang pengunjung yang datang di
museum ini juga pernah ada yang mengalami kesurupan. Dia pun meminta
agar pengunjung yang datang tidak boleh banyak melamun karena hal itu
akan membuat dirinya dengan mudah di masuki oleh makhluk halus.
“Pernah
waktu itu baru datang ke museum lalu sama satpam di arah kalau mau
berkunjung lebih baik melalui pintu utama agar bisa melihat lebih banyak
koleksi museum. Baru beberapa menit diberi arah, eh tidak lama ada yang
kesurupan. Katanya sih yang kerusupan itu memang lagi ada masalah
jadinya dia lebih banyak melamun,” kata Ratno.
Tidak hanya itu,
ada juga pengunjung yang kerap bercerita bahwa mereka pernah ditemui
oleh sosok makhluk berbadan besar dan hitam. “Iya katanya juga ada yang
pernah melihat makhluk tinggi dan badannya hitam. Tetapi kami di sini
yang menjaga hanya ngeles saja biar mereka tidak takut,” kata Ratno.
Meski
begitu, Ratno mengaku tidak takut dengan hal – hal gaib yang ada di
sini. Menurutnya, bekerja di dalam museum apalagi yang sudah dibangun
lama sekali pasti akan memiliki kisah – kisah misteri.
“Kalau
saya sih tidak akan pernah takut karena saya hanya takut sama Allah.
Saya percaya Allah akan menjaga saya. Karena tidak hanya di museum yang
bangunannya didirikan sudah lama, di rumah atau di tempat lain juga
pasti ada setannya. Makanya saya tidak takut karena juga mungkin sudah
terbiasa diganggu atau ditemani,” kata Ratno sambil tertawa.
*****
Sementara
itu, seorang pengunjung yang tidak ingin disebutkan namanya mengaku
pernah juga bertemu dengan sosok wanita. Saat itu dia bersama dengan
teman – temannya sedang menikmati paket wisata Kota Tua yang ada di
depan Museum Fatahillah.
“Waktu saya sendiri sedang ada di lantai
dua tempat menyimpan miniatur– miniatur kapal. Saya merasa padahal saya
sedang sendiri tetapi tiba – tiba ada seorang wanita berambut panjang
muncul dari balik pintu. Yang saya tahu pintu itu awalnya tertutup tapi
tiba – tiba berhenti, saya langsung saja turun,” katanya.
Kejadian
itu membuatnya tidak lagi berani berkunjung ke museum sendirian. “Jadi
sekarang kalau mau berkunjung ke museum dan lihat – lihat koleksi
mendingan ramai – ramai, soalnya kalau sendirian takut ada yang nemenin
lagi,” katanya.
Sumber: http://news.okezone.com/read/2014/03/21/500/958466/kisah-noni-belanda-di-museum-bahari
0 Comments